Sebermula di Semesta The Macarons Project: Peluncuran Album Pertama

The Macarons Project performing an intimate show for their album release, featuring acoustic guitars, soft lighting, and warm
The Macarons Project hosts an intimate show celebrating their album release. The scene captures the band performing live, surrounded by warm decorative lighting, acoustic setups, and a cozy atmosphere that reflects their musical essence.

Maka diiringi dedaunan yang bukan lagi hijau melulu, yang sudah berubah merah kecoklatan atau menjelma kuning bercampur terakota, yang merapuh, yang melayang-layang lepas dari ranting-ranting yang sedang bersiap meranggas lalu bertaburan di tanah basah, album pertama The Macarons Project bertajuk reverie dirilis pada konser bernuansa akrab (intimate show) bertempat di Zameen Art House, Granville Island, Vancouver, di tanggal 28 September 2004.

Puluhan tamu undangan yang datang dipersilakan memilih berlesehan di atas lembaran-lembaran kain ditemani bantal-bantal warna-warni beraneka bentuk atau duduk di kursi-kursi yang ditata separuh lingkaran menghadap area pementasan. Bebas! Dekorasi ruangan ditata sederhana saja namun tetap artistik. Tidak ada panggung yang membuat berjarak dengan penonton, melainkan hanya empat kursi kayu lipat untuk Dito dan Ree serta dua orang pemain musik tambahan sekaligus penyanyi latar, lima buah lampu meja berbagai ukuran, lalu hiasan lampu-lampu kecil yang menjadi ciri tersendiri The Macarons Project di hampir semua video musik mereka di YouTube. Salam selamat datang disuarakan melalui celoteh gemas empat keponakan mereka yang tinggal di Indonesia. Membuat yang hadir serasa betul-betul mengunjungi ruang tamu rumah Dito dan Ree.

Sebelas lagu dinyanyikan. Tujuh di antaranya gubahan The Macarons Project, yaitu Fade, Is it The End?, Hold Us Tight, never be enough, Heartbreaker, I Will, dan Sandy Shores. Semuanya terangkum dalam album reverie. Lagu-lagu manis yang dikemas dengan kekenesan suara khas milik Ree berpadu petikan melankoli gitar Dito membuat TMP Fam terhanyut dalam lamunan masing-masing. Apalagi ruang konser pun temaram. Sampai-sampai gemuruh tepuk tangan baru terdengar beberapa saat kemudian setelah sebuah lagu berakhir. Hal yang terjadi berulang dan disadari oleh Ree, sehingga membuatnya berseloroh, “Boleh banget kalau mau dengerin sambil tiduran. Sudah tersedia banyak bantal.” Ha ha ha.


The Macarons Project - Intimate Show



Ree juga menceritakan asal-usul di balik beberapa lagu ciptaan mereka. Lagu ‘Hold Us Tight’, misalnya, ditulis saat pandemi yang mengakibatkan Dito yang berdiam di Vancouver “terpisah” dari sang istri di Indonesia. Sementara judul lagu ‘I Will’ dipilih berdasarkan kisah Ree dan sang suami saat bersepakat mengucapkan janji pernikahan dengan “I Will” bukan “I Do” seperti kebanyakan orang lainnya. Menurut Ree, mengatakan “I Will” berarti berjanji untuk senantiasa bersedia berupaya.

Empat lagu lain yang dipersembahkan malam itu, ada Linger milik The Cranberries, Too Sweet dari Hozier di mana video lagu cover tersebut sudah disaksikan 4 juta penonton kanal YouTube The Macarons Project, ada La Vie En Rose dalam versi Bahasa Inggris dan lagu tak lekang waktu yang sudah dinyanyikan ulang banyak musisi seperti Andrea Bocelli juga UB40, yaitu Can’t Help Falling in Love. Konser malam itu jelas mendulang sukses. Banyak yang hadir enggan beranjak seusai acara.

Ada sesuatu yang menarik diamati. Peluncuran album perdana TMP tersebut, ternyata, bertepatan hari pertama Musim Gugur tahun 2024. Musim yang didefinisikan dengan masa luluh-lantak, rontok, berjatuhan. Rasanya seperti kurang pas bagi peluncuran album baru, terlebih ini merupakan album perdana. Begitu, barangkali, yang terpikir.

Meskipun, sepintas, terkesan berlawanan. Namun, sejatinya, dunia hanya mewujud apabila terdapat dinamika pada dua kutub berbeda. Antara panas dan dingin. Atau panjang dan pendek. Seperti halnya baterai, baru berfungsi jika berkutub positif dan negatif. Layangan membubung gemulai karena ditarik dan diulur.

Bukan hanya itu, segala kehidupan terbentang melalui kelahiran yang ritmis. Fajar di ufuk pertanda terbitnya matahari, sementara terbenamnya matahari adalah fase memulai istirahat malam hari. Buah-buahan menjadi matang dari permulaannya bertunas. Maka setiap perjalanan, hubungan, impian, apapun, membutuhkan sebermula.

Saat pepohonan meruntuhkan dedaunan untuk melahirkan siklus baru berikutnya, saat Musim Dingin terbangun dari hembusan angin Musim Gugur, TMP melahirkan album perdana untuk mengukir jejak abadi bagi pembaruan, peluang, dan kemungkinan tak terbatas.

SELAMAT!

Foto oleh thehan.jr

Info lengkap tentang album: www.themacaronsproject.com/reverie

Read more