Napas Panjang Bangsa dalam Rangkaian Kata

Napas Panjang Bangsa dalam Rangkaian Kata
Napas Panjang Bangsa dalam Rangkaian Kata

Dari tiga ratus enam puluh lima hari yang tersedia, Indonesia mendedikasikan satu hari,  tanggal 28 April untuk merayakan puisi sebagai wujud penghargaan terhadap seni tutur yang telah ikut mengiringi perjalanan panjang bangsa. Hari Puisi Nasional ini sekaligus juga merupakan bentuk kehormatan pada para penyair yang menyuarakan kedalaman jiwa jamannya, menjadikan kata-kata sebagai alat perjuangan, dan jembatan rasa antar generasi.

Semisal suara gundah W.S. Rendra dalam puisi Sajak Sebatang Lisong


Menghisap sebatang lisong

melihat Indonesia Raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka

Matahari terbit,

Fajar tiba,

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak

tanpa pendidikan.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet,

dan papantulis-papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan,

tanpa pepohonan,

tanpa dangau persinggahan,

tanpa ada bayangan ujungnya.

……………….

Menghisap udara

yang disemprot deodorant,

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya;

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiun.

Dan di langit;

para tekhnokrat berkata:

bahwa bangsa kita adalah malas,

bahwa bangsa mesti dibangun;

mesti di-up-grade

disesuaikan dengan tekhnologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,

terhimpit di bawah tilam.

Kegeraman yang terbungkam milik Taufik Ismail di kumpulan puisi “Tirani dan Benteng” kala merekam jejak mahasiswa Angkatan 1966

TIRANI

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’

Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

Teriakan-teriakan di atap bis kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN!

1966


Keterpesonaan Sapardi Djoko Damono melulu pada hujan,

Kuhentikan Hujan

kuhentikan hujan. Kini matahari

merindukanku, mengangkat kabut pagi pelahan –

ada yang berdenyut

dalam diriku:

menembus tanah basah;

dendam yang dihamilkan hujan

dan cahaya matahari.

Tak bisa kutolak matahari

memaksaku menciptakan bunga-bunga


Kekonyolan syair-syair yang bernas sekaligus cerdas kepunyaan Joko Pinurbo,

Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh Bahasa

Indonesia yang pintar dan lucu, walau

kadang rumit dan membingungkan.

Ia mengajari saya cara mengarang

ilmu sehingga saya tahu bahwa

sumber segala kasih adalah kisah;

Bahwa ingin berawal dari angan

Bahwa Ibu tak pernah kehilangan iba;

Bahwa segala yang baik akan berbiak;

Bahwa orang ramah tidak mudah marah;

Bahwa seorang bintang harus tahan banting;

Bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa;

Bahwa orang lebih takut hantu ketibang kepada Tuhan;

Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira, sedangkan pemulung tidak pernah merasa gembala;

Bahwa manusia belajar cinta dari monyet;

Bahwa orang putus asa sering memanggil asu;

Bahasa Indonesiaku yang gundah

membawaku ke sebuah paragraf yang

tersusun di atas tubuhmu.

Malam merangkai kita menjadi kalimat

majemuk bertingkat yang panjang di

mana kau induk kalimat dan aku anak

kalimat.

Ketika induk kalimat bilang pulang,

anak kalimat paham bahwa pulang

adalah masuk ke dalam palung.

Ruang penuh raung, segala kenang

tertidur di dalam kening.

Ketika akhirnya matamu mati, kita

sudah menjadi kalimat tunggal yang

ingin tetap tinggal dan berharap tak

ada yang bakal tanggal.


Puisi adalah napas panjang sebuah bangsa yang terus bergerak. Maka bangsa yang menghargai puisi adalah bangsa yang menghargai relung jiwanya sendiri.

Read more