Nama-Nama Terlarang

Nama-Nama Terlarang
g4z85Zc-ZqI-unsplash

2007

Perempuan muda itu berdiri di depan kelas dengan segepok potongan koran di tangannya.

“Bagi kelompok 4 orang,” perintahnya. Suara kursi-kursi digeser disertai gumaman sana-sini.

“Hari ini belajar apa, Laoshi?” tanya seorang murid pria dengan suara bass-nya, wajahnya penuh jerawat dan rambutnya sedikit gondrong. Kemejanya nampak menyembul keluar dari celana panjang abu-abu yang dikenakannya.

Perempuan yang dipanggil Laoshi belum menjawab, tangannya sibuk membagikan potongan koran ke tiap kelompok.

“Wihhh!! Iklan orang mati!!” Teriak seorang murid begitu melihat potongan kertas yang dibagikan. Dalam sekejap muncul suara bisikan di kanan kiri. Selesai dari baris paling belakang ia kembali ke depan. Tanpa menghiraukan bisikan yang makin gaduh, ia menulis sebuah karakter di papan tulis. 姓。Ketika ia membalikkan badan menghadap murid-muridnya, ia mendapati mata seisi kelas menatapnya lekat-lekat.

Xing, marga. Ini materi kita hari ini. Marga orang Chinese diturunkan dari siapa?” Dari balik kacamatanya, ia menyapukan pandangan ke seluruh kelas.

“Papa! Bapak! Pihak Co!” Jawaban bersahut-sahutan terdengar. Laoshi mengangguk.

“Kalau begitu kenapa untuk karakter Xing, bushou atau radikalnya menggunakan kata 女 nv yang berarti perempuan? Kenapa tidak pakai 亻ren yang biasa dipakai untuk laki-laki?”

Kali ini seisi kelas hening. Bahkan si Gondrong yang biasa meracau tak jelas, memandang ke depan dengan penasaran.

“Saat ini marga itu patrilineal. Tapi awalnya, masyarakat Chinese itu Matrilineal. Alasannya sederhana. Zaman dulu bisa ga tau bapaknya siapa, tapi pasti tahu ibunya siapa.” Suara tawa riuh rendah memenuhi ruangan kelas.

Perempuan itu melanjutkan penjelasannya, “Tahun 1967, 2 tahun setelah G30SPKI, ada peraturan pemerintah yang menghimbau,” Ia membuat tanda kutip dengan kedua jarinya, “Menghimbau dalam tanda kutip, supaya para WNI keturunan Chinese mengganti nama mereka dengan nama Indonesia.”

Ia mengambil kertas dari sakunya, lalu mulai membaca dengan lantang

”Pasal 5 Keppres 240/1967 berbunyi “Khusus terhadap Warga Negara Indonesia Keturunan Asing jang masih memakai nama Cina diandjurkan mengganti nama- namanja dengan nama Indonesia sesuai dengan ketentuan jang berlaku.”

Matanya menyapu wajah-wajah muda yang tak pernah paham pahitnya kata komunis, yang bahkan tak pernah merasa bulu kuduk mereka berdiri setiap mendengar kata Mei 98.

“Bagi orang Tionghoa, marga tak hanya nama tapi juga ikatan kekerabatan. Mereka memutar otak dan cara lalu membuat Marga versi Indonesia. Ya, Anthony?” Ia melihat ke arah seorang muridnya yang berkacamata dan duduk di depan. Sedari tadi Anthony sibuk melambaikan tangannya.

“WNI keturunan Asing kan ga cuman keturunan Chinese, Laoshi! Ada WNI Keturunan Belanda, Arab, India. Semua harus ganti nama Indonesia juga kan?”

Ia terpana mendengar pertanyaan Anthony. Semua harus ganti nama Indonesia juga kan? Ia tak tahu harus tertawa atau menangis melihat keluguan muridnya. Tapi yang muncul justru rasa iri. Iri melihat di wajah polos yang belum tercemar diskriminasi. Iri melihat pertanyaan yang muncul dari rasa percaya bahwa di mata hukum mereka semua setara. Ya kan? Sayang ia tidak bisa iri lama-lama, 40 pasang mata memandang menunggu jawabannya.

“Menurut kamu? Saya bacakan lagi. Khusus terhadap WNI keturunan Asing yang masih memakai nama Cina dianjurkan mengganti nama-namanya dengan nama Indonesia.” Tuturnya balik bertanya.

Anthony membuka mulut, namun kalah cepat dengan si Gondrong yang langsung berteriak, “Goblok! Ini khusus buat kita WNI keturunan Chinese tahuuu!!! WNI keturunan lain mah bebas!!” Nadanya tinggi penuh emosi.

“Kok gitu sih, Laoshi!” Anthony protes.

Cepat-cepat ia mengangkat tangan menghentikan debat yang hampir dimulai.

“Ini sejarahnya panjang,” ia terkejut mendengar suaranya sendiri yang bergetar. Cepat-cepat ia menelan ludah, “Kalian tanya Pak Dedi saja, guru sejarah. Okay kembali, tugas kalian hari ini, temukan sebanyak mungkin varian marga versi Indonesia dari beberapa marga orang Tionghoa,” ia melirik jam tangannya, “Waktu kalian 20 menit dari sekarang.”

Suara-suara kursi kembali digeser dan diskusi mulai berlangsung. Orbituari berisi nama-nama almarhum dengan anggota keluarga mereka, terserak di atas meja-meja. Huruf-huruf hanzi berpadu dengan nama-nama Indonesia.

“WONG!! Marga gue nih! Tuh Wongso.”

“Ini paling gampang. Lim, jadi Halim, Salim ... ada lagi ga?”

“Nama bokap loe kan? Tanuwidjadja, marga tan, she tan loe!”  Kikik seorang gadis menyenggol temannya.

“Baru tau gue, Ongko dari Huang.”

Ia berjalan berkeliling melewati meja murid-muridnya sambil tersenyum.

***

Desember 1990

“Nama Mama Kim Lan atau Ratna?” Gadis kecil menggaruk kepalanya kebingungan. Ia mendengar emak, engkong dan tante-tantenya selalu memanggil Mamanya dengan sebutan Kim Lan. Tapi kenapa mamanya menulis nama lain ketika menandatangani nilai ulangannya. Di buku raport tertulis nama orang tuanya Ratna. Kim Lan itu siapa?

“Kim Lan itu nama Chinese. Ratna nama Indonesia,” ujar mamanya sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya, “Makan.”

“Nama Chineseku apa?” Tanya si gadis sambil sibuk mengunyah makanannya.

“Ga ada.”

“Kenapa ga ada?”

“Kamu orang Indonesia,” jawab mamanya singkat.

“Mama bukan orang Indonesia??” Kening gadis itu berkerut.

“Stt ... tembok bisa bicara, “ gumam mamanya pelan. Mulut mamanya terkatup rapat, berondongan pertanyaan tak mempan menembus barikade bibir yang tertutup.

Dalam sekejap si Gadis mengamati bahwa semua orang di keluarga besarnya punya dua nama. Tante kelimanya, Iin sekaligus Martha. Tante keduanya Hwa alias Debora. Tante kesepuluhnya, Uun sekaligus Ruth. Oom kesembilan Sun alias Sunoto.

Hanya satu orang yang berbeda. Oom, suami tante ketiga.

“Oom Sophar nama Chinesenya apa?” Ia bertanya kepada suami tante ketiga yang tinggi besar. Sesaat denting sendok garpu di seluruh ruangan terhenti. Segenap keluarga besar mematung, semua senyap memandang pria berkulit gelap dan berambut ikal, seolah was-was mendengar apa jawabnya. Namun pria itu tertawa terbahak-bahak,

“Hei ... kau pikir tulang-mu ini Chinese ha?” Perutnya yang buncit tergoncang. Tawa lega memenuhi ruangan.

“Oom ga punya nama Chinese?” Gadis masih penasaran. Di tangannya ada kertas HVS berisi daftar nama Chinese dan nama Indonesia seluruh keluarga besarnya.

“Oom orang Batak!” Ada nada bangga dalam suara pria itu.

“Nama Batak Oom apa?” Kejarnya lagi.

Pria itu membuka kacamatanya, menyeka airmatanya yang keluar saking asyiknya ia tertawa, “Monang.” Ia mengambil kertas lalu menulis nama lengkapnya. Tak hanya itu, ia mengambil dompet, mengeluarkan KTP nya dan menunjukkannya.

Gadis ternganga, “Wah.” Tapi dahinya berkrenyit. Kenapa ia tidak melihat ada nama Chinese mamanya di KTP mamanya?

“Nama Batak bisa ditulis bareng dengan nama Indonesia?” Tanyanya penasaran.

“Iya!”

“Lalu kenapa nama Chinese tidak sama dengan nama Indonesia?”

Senyum itu lenyap. Pria besar itu menepuk kepalanya dengan lembut, “Nanti Oom cerita kalau kau sudah besar ya. Belajar yang rajin.” Oom Sophar beranjak meninggalkan gadis yang masih penasaran.

***


Halaman Selanjutnya

Desember 1996 - Plak. Suara koran dibanting. Gadis melihat Oom suami Tante keenam...

Desember 1996

Plak. Suara koran dibanting. Gadis melihat Oom suami Tante keenam dan Si Oom suami tante kedelapan berbicara dengan nada rendah.

“Sudah jelas sasaran mereka siapa!” Wajah pria-pria dewasa itu nampak gelisah.

“Keadaan genting.”

Mereka terus berdiskusi dengan mengucapkan kata-kata yang tak begitu Gadis pahami. Situbondo. Kerusuhan. Bakar-bakaran. Sambil berjingkat ia mengintip koran di atas meja. Nampak sebuah foto menghiasi halaman pertama. Foto toko-toko yang tutup, ada tulisan pilox di atasnya. 100% Pribumi!!!  Di toko sebelahnya Milik Pribumi Muslim.

Pribumi? Muslim? Apapula maksudnya? Apa itu nama suku baru? Seperti Jawa, Minang, Bugis? Siapa yang jadi sasaran? Gadis penasaran tapi ia tak berani bertanya.

“Non, kamu ngapain di situ?” Suara Oom suami tante pertama mengejutkannya.

“Baca koran, Oom.”

“Bagus, baca koran ya biar pintar.” Oom duduk di sebelahnya sambil memakan kuaci, “Kalau ga pinter nanti kamu susah gedenya. Kamu itu Cina, Kalau ga pinter gimana mau masuk Universitas Negeri?”

“Aku bukan Cina!” Protesnya keras, “Kata Mama aku orang Indonesia!”

Oom menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sipit koyo ngono kok ngaku-ngaku Indo, Kamu bukan Pribumi! Kita itu Chinese.”

“Tapi aku ga punya nama Chinese!” Gadis itu bersikukuh. Namanya hanya satu, Sita Kusuma Wijaya. Kurang Indonesia apalagi? “Aku orang Jawa!” Ya Gadis fasih berhitung dalam bahasa Jawa, siji loro telu papat limo. Wes mangan? Wes adus?

Oom itu menggeleng kepala lalu berteriak ke arah keluarga besar yang sedang asyik menonton TV, “Iki lohhh... Nonik ngaku-ngaku wong Jowo.” Tawa kembali meledak. Tante keempat berkata, Kita itu Jacinda. Jawa, Cino, Belanda.”

Semua kembali tergelak. Hanya Gadis yang terus bertanya, aku ini sebenarnya orang apa?

***

2000

“Loe jadi daftar jurusan apa Mar?”  Gadis duduk berempat di kantin dengan sahabat-sahabatnya. Sari akan ke Amerika jurusan akuntansi, ulangannya selalu 100, pengalaman jadi bendahara 3 tahun. Cocok memang. Jane memilih Psikologi, paling enak curhat dengan sahabatnya yang ini. Grace masuk hukum di Trisakti.

“Sastra Cina,” ujar Gadis mantap.

“Blurrrpp ...” Grace menyemburkan minumannya. Sari melonggo. Jane memukul bahunya, “MABOK LOE?!?”

Gadis melap tangannya yang terkena semburan minuman Grace, “Mang kenapa?”

“Eh gilingan bakmie ... Loe mana bisa ambil Sastra Cina?!?! Ngomong zende ma aja kagak bisa,” Sari tertawa terbahak-bahak. Sari Cina totok asli 100%. Fasih bahasa Mandarin dan Hokkian.

“Ta ... bukan maksud gue ga percaya sama elu yee ... Tapi Ta ...” Jane menepuk bahunya bak konselor yang bisa membaca suasana hati, “Gue kursus mandarin 12 tahun, kagak bisa-bisa sampe sekarang! Loe pan begimana ... Guru les gue dari Beijing, dipanggil khusus sama Bokap. Tetap bebal gue.” Ia mulai mengernyit, sesusah itu kah? Jane,anak Glodok, kadar kecinaannya tak perlu diragukan. 12 tahun dan masih terbata-bata? Ia hanya punya 4 tahun.

“Ya itu mah elu. Pokoknya gue ambil Sastra Cina.” Gadis tak ambil pusing dengan guyonan sahabat-sahabatnya.

Rencana ke China disambut hangat oleh keluarga besar. Ia diajak suwun ke seluruh tetua keluarga. Tante-tantenya memperkenalkannya dengan bangga, “Ini loh, Nonik mau ke cung kuok belajar bahasa Mandarin.” Semua tetua menepuk bahunya dengan bangga. Ada tatapan penuh makna di mata mereka seolah mereka ingin berkata, Akhirnya ada keturunan kami kembali menginjak tanah leluhur.

***


Halaman Selanjutnya

Xiamen, 2001 - Gadis berdiri ketika gurunya menunjuknya untuk membacakan kalimat yang dibuatnya...

Xiamen, 2001

Gadis berdiri ketika gurunya menunjuknya untuk membacakan kalimat yang dibuatnya. Ia berdiri lalu dengan lantang mengatakan,

我是中国人 wo shi zhong guo ren. Saya warga negara China.”

Profesor Xia tertawa tipis lalu mengoreksinya, “ Bukan. Kamu bukan orang China. Kamu orang Indonesia.”

Gadis menatap Profesor Xia dengan tatapan putus asa. Kenapa semua orang baik di Indonesia maupun di China memperlakukannya seperti bola ping-pong?

Tetangga-tetangga kompleksnya meledeknya dengan kata, “Cina ... cina ... cina ...” Tapi ia tak punya nama Chinese. Sekarang di China, ia mengatakan ia orang China, ditertawakan juga.

Wo bu ming bai. Saya tidak mengerti. “  Gadis tak tahan lagi, dengan patah-patah ia menjelaskan kegamangannya, “Zai Yin ni, tamen shuo wo shi zhong guo ren. Bu shi yin ni ren. Za Zhong guo, nimen shuo wo shi yinni ren, bu shi zhong guo ren. Who shi shui?”

(Di Indonesia, kata mereka, saya orang China bukan orang Indonesia. Di China kalian bilang saya orang Indonesia bukan orang China. Sebenarnya saya ini orang apa?” Saya siapa?”)

Professor Xia tergugu. Tidak biasanya ada mahasiswa baru berani bertanya, pertanyaan soal identitas pula. Namun ia tahu sejarah Indonesia Chinese. 10 tahun mengajar anak-anak Indonesia membuatnya paham.

Ni shi Yinni hua ren. Kamu orang Indonesia Chinese. Yinni shi ni de guojia. Hua ren shi ni de jiazu. Indonesia itu negaramu, Chinese itu sukumu,” Profesor Xia menjawab dengan tegas.

Gadis termangu. Bisakah ia menjadi keduanya? 100% Indonesia dan 100% Chinese. Bisakah nama Chinesenya menjadi nama Indonesia seperti nama Batak? Di China ia memberi dirinya sendiri nama Chinese. Lin Hu Die. Forest Butterfly. Akankah nama itu diakui sejajar dengan nama Indonesianya?

***

“Laoshiiii!!!” suara melengking suara anak perempuan menariknya kembali.

“Udah kelar Laoshi!!” Beberapa muridnya sibuk melambaikan hasil diskusi mereka.

“Yang sudah selesai tulis di papan tulis,” Beberapa anak dengan gesit maju ke depan dan mulai menulis nama-nama beserta nama Chinesenya.

林 lin = Halim, Salim, Liman.

李 Li = Lisman,

蔡 Cai = Cahyo, Cahyadi

曹 Cao = Cokro

郭 Guo = Kusumo, Kumala

吴 Wu = Gondo, Gunawan, Gozali, Utama.

施 Shi = Sidharta, Sidarto

苏 Su = Soekotjo, Suhadi, Suganda,

郑 Zheng = Sutedja, Tedjo, Tedjakusumo.

Ia menatap tulisan murid-muridnya. Goretan-goretan hanzi berpadu dengan nama-nama ala Indonesia. Ia menyaksikan murid-muridnya memakai simbol = Sama dengan. Tapi ia tahu kedua nama itu tidak sama, tidak sejajar. Mungkin simbol yang lebih pas adalah < Lebih kecil.

林 < Halim.

Karena jika bobotnya sama, seharusnya nama di sebelah kanan tak perlu ada. Simanjuntak tak perlu berganti menjadi Suparman kan? Ah, ia ingin berbaik sangka, itu semata-mata karena daftar sebelah kiri lebih sulit dibaca daripada huruf latin dalam marga Oomnya.

Begitu mungkin ya? Anggap saja seperti itu. Karena kemungkinan yang lain, terlalu menyakitkan untuk diungkit maupun dibuka.

***

Bel akhir pelajaran berbunyi. Ia sedang membereskan bukunya ketika seorang murid wanita berdiri malu-malu di ujung meja.

“Ya?” tanyanya sambil menatap dari balik kacamata.

Laoshi, makasih, aku baru tahu nama marga papaku apa,”

Bu yong xie. Terima kasih kembali.”

Laoshi ... “ muridnya sibuk memilin ujung roknya, &quot;Saya ga punya nama Chinese.”

Senyumnya mengembang. Ia merasa melihat dirinya yang dulu, “Mau saya bikinin?”

Mata sipit itu membulat membesar, “Bisa Laoshi?”

“Saya buatkan beberapa nanti kamu tanya Papa Mama kamu mau yang mana.”

Buru-buru muridnya mengangguk dengan antusias, “Boleh Laoshi, boleh!”

Women shi Yinni hua ren. Yinni shi women de guo jia. Hua ren shi women de jia zu,” mulutnya membeo mengikuti kalimat Professor Xia.

“Kita orang Chinese Indonesia. Negara kita Indonesia, Suku kita Chinese. Dua-duanya akar kita. Sama pentingnya. Sama bobotnya.”

Di mata negara mungkin selamanya, simbol untuk dirinya dan namanya adalah < dan tak akan pernah menjadi =. Tapi kini ia tahu ia siapa. Persetan apa kata negara.

我们是印尼华人。 印尼是我们的国家,华人是我们的家族。

“Women shi Yinni hua ren. Yinni shi women de guo jia. Hua ren shi women de jia zu,”

Sesosok pria dengan kepala setengah botak menunggu di depan pintu.

“Pak Dediiiii ....” Anthony memanggil pria itu dengan setengah berteriak. Pria itu menaikkan satu alisnya.

“Pak, kenapa tahun 1967 ada perpu yang menyuruh WNI keturunan Chinese ganti nama? Kenapa WNI keturunan Belanda, Arab, India ga perlu??” Teriak Anthony.

“Ga adil, Pak!” Tambah teman sebangku Anthony.

“Emank salah kita apa?!” Tanya si Gondrong.

Wajah pria itu sedikit memucat menerima berondongan pertanyaan dari para remaja tanggung.

Ketika ia berpapasan dengan pria itu, Pak Dedi berbisik, “Laoshi, jangan ngajarin yang aneh-aneh donk!”

Tubuhnya menegang. Ia memutar langkahnya, menatap Pak Dedi dengan tajam, “Saya tidak mengajarkan yang aneh-aneh, Pak. Ini fakta sejarah.”

“Tapi tidak ada di kurikulum, Laoshi!”

“Mungkin ini waktunya dimasukkan, Pak.” jawabnya tenang.

“Tapi ...”

“Anak-anak ini harus tahu. Selamat siang, Pak Dedi.” Ia memutar kembali tubuhnya dan meninggalkan Pak Dedi.

Anak-anaknya harus tahu. Sejarah hitam bangsa mereka. Anak-anak harus tahu, akar mereka. Bukan untuk mewariskan luka dan kebencian, tapi supaya mereka bisa menemukan dirinya, akarnya dan berdiri tegak di negeri ini.

Tanpa akar yang dalam, takkan ada pohon yang bisa berdiri tegak.

我们是印尼华人。 印尼是我们的国家,华人是我们的家族。

“Women shi Yinni hua ren. Yinni shi women de guo jia. Hua ren shi women de jia zu,”


Singapore, 29 Oktober 2020

*Pertama kali dimuat di https://www.wattpad.com/myworks/248598000/write/984657455

**Daftar marga Chinese dan versi Indonesianya diambil dari Wikipedia.

Tentang penulis: A wound opener. Grace Suryani Halim, BA, percaya bahwa luka bukan untuk diwariskan atau disembunyikan, namun untuk dibuka dan disembuhkan. Ia menulis khusus untuk membuka luka. Tokoh-tokoh utama cerpen dan novelnya adalah para Chindo, Chinese Indonesian, baik yang di Indonesia maupun para diaspora. Para Chindo yang berusaha mencari jati diri, akar, sering terombang-ambing di antara dua dunia dan juga ketegangan hubungan antara Chinese-minded generasi tua dengan Western-educated generasi muda. Dalam tulisannya ia suka memasukkan chengyu (Chinese idioms), sejarah China, sastra China (The Romance of Three Kingdoms, Lu Xun, dll),maupun kebiasaan khas para Chindo. Selain menulis, Grace adalah homeschooling mother dengan 3 anak dan saat ini tinggal di Singapura dengan keluarganya. Bisa dihubungi di

grace.suryani@gmail.com

atau IG:

@gracesuryani

.

Cover Photo: https://unsplash.com/photos/g4z85Zc-ZqI

Read more