Gerak Ritmis Srikandi Vancouver

Gerak Ritmis Srikandi Vancouver
Srikandi Indonesia Dancer di Toronto

“Waktu kecil sering diikutsertakan di kegiatan-kegiatan tari di Gereja atau di Sekolah. Awalnya, kebanyakan, modern dance. Setelah dewasa, malah baru belajar tari tradisional dengan guru.” Begitu Feby Bramandewi berkisah awal muasal meleburkan dirinya pada tari-menari. Demikian pula Firda Wijaya, pendiri Srikandi Indonesia Dancers di Vancouver, punya pengalaman serupa milik Feby. Hanya saja, “Aku sudah menari tarian tradisonal sedari dini. Menari tarian Jawa di TK, juga mementaskan tari Indang (Dindin Badindin) dari Minang. Selain selalu ikut ekskul tari, di Bogor memang banyak sekali sanggar tari. Jadi sangat gampang mendapatkan akses ke sumber tarian tradisional.”

Mewujud kala 2019, Srikandi Indonesia Dancers sudah bergerak ritmis di banyak panggung kebudayaan di seantero Metro Vancouver. Berkolaborasi bersama artis-artis lokal, serta menjalin hubungan seni budaya dengan komunitas asal negara-negara benua Asia lainnya di Vancouver. Bukan sampai di situ tentunya.  Bulan Mei kemarin, laskar Srikandi Indonesia Dancers menyibakkan sampurnya hingga Toronto, di acara Festival Carrassauga. Sebuah pesta kebudayaan terbesar tahunan Canada. “Kami tampil 10 kali, selama 2 hari, membawakan 3 tarian. Tari Lenggang Nyai (Betawi), tari Kancet Lasan (Kalimantan), dan tari Gelang Ro’om (Madura). Ini perjalanan budaya pertama kali kami ke Pantai Timur Canada. Pertama kali keluar British Columbia. Indonesian Pavilion sendiri seluas lapangan basket, tapi semuanya, baik penarinya maupun yang menyaksikan, bisa tetap fokus dalam menyuguhkan dan menikmati budaya yang ditampilkan,” cerita Firda. “Sebelum berangkat, kami bikin Srikandi Picnic Fundraiser. Tiket seharga $18 itu laris manis terjual. Dari situlah kami membiayai lawatan kami ke Toronto,” imbuh Feby.



Apa, sih, bagian paling menantang ketika mempelajari dan menarikan tarian tradisional?

“Tarian tradisional itu bawaan leluhur. Turun temurun diajarkan dari Nenek Moyang. Sebaiknya kita memahami dari mana itu berasal, kenapa tari itu muncul dan dulunya ditarikan dalam acara apa di daerah tersebut, apakah saat bulan purnama atau panen padi, misalnya. Bahkan secara teknis gerakan tangan saja bisa berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Terikat pakem penuh-penuh. Punya keunikan masing-masing. Punya keunggulan masing-masing”. Firda mengiyakan pendapat Feby seraya menambahkan, “Menempatkan perasaan yang sesuai isi cerita tarian itu, agar bisa ditangkap oleh hadirin secara otentik”.

Ada pengalaman menari paling mengesankan?

Firda dan Feby sepakat bahwa hampir semua acara yang mereka ikuti telah meninggalkan jejak mendalam. “Sebab menari adalah salah satu upaya mengenalkan Indonesia lewat cara yang menyenangkan. Ada banyak laku hidup dalam sebuah tarian di mana menari punya 3 titik pijak, yaitu Wiraga yang berkaitan gerak tubuh, Wirama yang menyangkut irama musik dan ritme penari serta Wirasa berhubungan dengan kisah dan isi tarian. Whole package,” ulas Feby.

“Pandang mata yang menyiratkan rasa penasaran dari yang menyaksikan. Kemudian setelah selesai, ada himpunan feeling kepuasan yang melingkupi. Semuanya itu menjelma energy. Kekuatan,” tukas Frida.



Lalu bagaimana menari mempengaruhi hidup dalam keseharian?

“Wah! Apa, ya?” Senyum Firda melebar. “Mungkin selain hobi, bisa sekaligus jadi distraksi. Menjauhkan diri dari kenyataan yang lagi tidak mengenakkan. Ha-ha-ha. Another way to release stress. Mengeksplorasi gerak, juga melatih pendengaran. Juga jadi olahraga juga”.

“Sesuatu yang ternyata jadi kebutuhan,” kata Feby. Pernah beberapa saat lamanya tidak menari, itu rasanya enggak enak banget. Apalagi tarian Jawa itu, kan, meditatif sifatnya. Seperti meditasi bergerak. Semakin merasuk semakin susah lepas. Setiap kali menari, selalu mengingatkan diri sendiri untuk bernapas sebagaimana mestinya. Napas … napas … napas.”

“Ha-ha-ha. Bener banget! Breathebreathe …” Firda menimpali.

Pesan buat yang mau bergabung Srikandi Indonesia Dancers untuk belajar menari tarian tradisional?

Hampir serempak keduanya menjawab cepat, “Just Do It!

Facebook | Instagram | TikTok | YouTube

Read more