Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)

Berduka dalam Sepi (Covid-19 Merenggut Ibuku)
jonathan-cooper-beil1d4b-88-unsplash

Di jelang 2 bulan kepergian Ibundanya, sahabat saya mau membagi kisahnya ini. Kisah saat menyertai sang Ibu ‘bertarung’ melawan Covid-19. Virus ganas yang sedang merajalela di muka bumi.

“Barangkali ada yang bisa mengambil manfaat dari ceritaku”, ujarnya melalui sambungan telepon.

“Sebenarnya aku tidak tahu persis kapan, tepatnya, semua ini bermula. Tapi, mungkin, berasal dari sebuah acara yang dihadiri Ibuku. Aku pun ada di sana menemaninya. Jadi, setelah Ayah meninggal akibat demensia, Ibuku aktif di forum komunikasi lanjut usia. Beliau kerap menyempatkan datang setiap kali menerima undangan. Di acara itu, beliau tampil bermain angklung dan menyanyi. Ibu selalu terlihat senang berkumpul dengan teman-teman seusianya”.

“Acaranya digelar hari Sabtu tanggal 7 Maret. Aku ingat betul, beberapa hari sebelumnya, tanggal 2 Maret, Pemerintah baru mengkonfirmasi kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Memang sudah banyak terdengar tentang virus ini di banyak negara. Tapi di Indonesia, waktu itu, rasanya masih belum menjadi ‘sesuatu yang dekat’ dengan kehidupan kita sehari-hari. Informasi belum terlalu jelas karena bercampur dengan hoax. Penjelasan yang tersedia dan tersebar di media hanya bersifat umum. Belum ada himbauan untuk menggunakan masker atau physical distancing. Baru sebatas ajakan agar rajin mencuci tangan. Sehingga berbagai kegiatan  berjalan seperti biasanya”.

“Terdapat sekitar 130 orang di acara hari Sabtu itu. Tanpa masker. Tanpa pengecekan suhu tubuh di luar gedung. Tidak ada jaga jarak sama sekali, meskipun sebagian besar yang datang sudah menghindari bersalaman. Semuanya nampak ‘normal’ dan wajar. Aku dan Ibu bahkan mampir ke Mal seusai acara. Mal pun penuh dengan pengunjung, sebagaimana lazimnya weekend”.

“Jumat pagi, tanggal 13 Maret, aku menelepon Ibu. Mengingatkan bahwa hari itu kami harus pergi ke Kedutaan Jepang untuk apply Visa. Kami berencana pergi berlibur ke Jepang tanggal 29 Maret. Ingin melihat cantiknya bunga-bunga Sakura bermekaran. Tapi Ibu bilang sedang tidak enak badan. Tidak bisa tidur di malam hari. Alhasil, kami membatalkan pergi ke Kedutaan Jepang. Aku lalu menyarankan Ibu untuk pergi ke dokter. Ibu mengikuti saranku. Beliau pergi ke dokter, sore harinya. Aku tidak bisa mengantar Ibu karena seusai jam kantor, aku, suami dan kedua anakku pergi menginap di luar kota. Dua malam”.

“Minggu siang, setibanya di rumah, aku langsung menelepon Ibu. Menanyakan kabarnya dan memberitahu ada oleh-oleh dari luar kota untuknya. Ternyata Ibu masih mengeluh sakit. Aku menjadi khawatir. Aku memintanya tinggal bersamaku, sementara, agar aku bisa merawat Ibu. Minggu sore, aku menjemput Ibu. Malam harinya, aku menyadari bahwa badan Ibu terasa hangat. Cenderung panas. Aku memeriksa suhu tubuhnya. Sekitar 37.8 – 38 derajat C. Kekhawatiranku bertambah”.

“Esok paginya, Ibu melakukan cek darah di laboratorium. Cek darah berkala yang rutin dilakukan Ibu. Hasilnya bagus. Tapi badan Ibu masih panas dan Ibu belum bisa tidur”.

“Selasa malam, aku memutuskan membawa Ibu ke dokter spesialis penyakit dalam di sebuah Rumah Sakit. Ibu sudah mulai tersengal-sengal ketika bicara. Suhu tubuhnya belum stabil. Turun sebentar, kemudian panas lagi. Terlihat lemas dan terkadang batuk. Rumah Sakit mengijinkan Ibu beristirahat di IGD (Instalasi Gawat Darurat) sembari menunggu hasil observasi dari dokter. Di ruang IGD, Ibu diinfus karena tidak mau makan. Melihat kondisi  Ibu, aku menanyakan kemungkinan bagi Ibu untuk bisa dirawat di situ. Namun pihak RS tidak menyanggupi dengan alasan semua kamar penuh terisi dan Ibu menunjukkan gejala yang mengarah pada Covid-19. RS itu tidak punya ruang isolasi. Dokter spesialis penyakit dalam juga tidak dapat memberikan penanganan apapun. Hanya menyarankan agar aku segera memeriksakan Ibu ke dokter ahli paru-paru. Aku dan Ibu pulang tanpa solusi”.

“Rabu pagi, 18 Maret, aku bersama Ibu mendatangi RS yang lebih besar. Sebuah RS ternama berstandar internasional. Protokol ketat mulai dijalankan sehubungan meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. Kami melewati screening terlebih dulu di dalam tenda di area parkir, sebelum dapat masuk ke gedung RS. Entah bagaimana, tapi Ibu dinyatakan  dalam kondisi baik sehingga kami pun bergegas menuju ruang tunggu dokter ahli paru-paru. Jam menunjukkan jam 11 siang dan perawat memberi tahu kami bahwa dokter akan datang sekitar pukul 3 siang. Kami diminta menunggu 4 jam!”.

“Ibu mengeluh kedinginan. RS membolehkan Ibu berbaring di ruang kosong. Adanya rentang waktu yang cukup lama menanti kedatangan dokter, membuatku berinisiatif meminta RS melakukan foto rontgen thorax pada Ibu. Hasilnya: terlihat flek-flek pada paru-paru Ibu”.

“Aku menunjukkan foto rontgen itu ke hadapan dokter ahli paru-paru. Setelah mempelajarinya, dokter mengatakan bahwa Ibu menderita pneumonia usia lanjut. Akan tetapi karena hal ini terjadi di tengah kondisi pandemi Covid-19, di mana keduanya memiliki kemiripan gejala, maka itu harus diduga sebagai Covid-19 sampai ada pemeriksaan lanjutan yang membuktikan bahwa itu bukanlah Covid-19. Dokter menghendaki Ibu menjalani CT Scan untuk paru-parunya. Setelah itu, Ibu kuantar pulang. Kami makan di kedai Soto Kudus dulu, sebelum sampai di rumah”.

“Setelah itu, aku kembali ke RS sendiri untuk mengambil hasil CT Scan. Dokter menjelaskan, GGO (Ground Glass Opacity) berupa bercak-bercak padat berwarna putih, tampak jelas di paru-paru Ibu”.

“Jadi saya harus bagaimana, dokter?”

“Maaf, Bu, mungkin Ibu bisa ke bagian informasi untuk memastikan ketersediaan ruang isolasi di IGD. Sekarang ini saya harus pulang untuk istirahat. Sudah lama saya tidak pulang”.

“Seketika ‘kegaduhan’ mencuat dalam diriku. Kegaduhan dari keriuhan pikiranku merangkai langkah-langkah yang harus aku kerjakan, bercampur informasi yang aku punya tentang Covid-19, ditambah ketidakjelasan yang terpampang di depan mataku. Aku sadar, aku mulai berlomba melawan waktu”.

“Setengah terbang, aku berlari ke bagian informasi. Aku langsung menelepon suamiku, memintanya sesegera mungkin membawa Ibu kembali ke RS, setelah aku beroleh kepastian bahwa ruang isolasi di IGD masih bisa menerima Ibu”.

“Saat melihat Ibu tiba di RS, aku katakan padanya bahwa mulai malam itu Ibu masuk ruang isolasi untuk dirawat dan diobservasi lebih seksama. Situasi di luar sangat tidak kondusif buat Ibu. Akan jauh lebih baik apabila Ibu mendapat pantauan langsung di RS. Ibu mengangguk-angguk”.


Halaman Selanjutnya

“Beberapa perawat mengantar Ibu masuk ke ruang isolasi...

“Beberapa perawat mengantar Ibu masuk ke ruang isolasi dalam IGD. Aku dilarang mengikutinya. Aku tidak boleh menjaga Ibu di sampingnya. Jadi tidak ada yang bisa aku lakukan di situ. Ruang IGD penuh orang membuat aku tidak nyaman berada dalam kerumunan. Kuputuskan kembali ke rumah. Sebelum pulang, aku mencari tahu terlebih dulu kejelasan status Ibu.  Apakah Ibu sudah dinyatakan positif Covid-19 atau bagaimana? Seberapa gawat keadaannya? Ke sana ke mari aku bertanya. Tak dapat jawaban pasti. Aku pulang dengan pikiran kalut.  Kesal, marah, bingung, kecewa, sedih, takut, semua campur aduk jadi satu”.

“Malam itu, dalam keheningan, aku bersimpuh di kamarku. Mendaras kencang doa. Air mata menetes tak terbendung. Aku menangis tersedu-sedu”.

“Jam 10 pagi, esok harinya, aku sudah berada di RS lagi. RS menginformasikan bahwa Ibu telah dipindahkan dari ruang isolasi di IGD ke ruang isolasi di ruang perawatan. Demikian  keterangan yang aku terima. Namun anehnya, ketika aku sedang mengurus administrasi, aku melihat tempat tidur Ibu lewat di dekatku, didorong beberapa petugas berpakaian pelindung diri lengkap. Sekitar jam 3 siang saat itu. Aku bingung, sebab menurut RS, Ibu sudah berada di dalam kamar isolasi di ruang perawatan. Kebingunganku tak kuhiraukan. Aku bergegas mendekati Ibu, tapi mereka melarang. Aku hanya bisa memandang wajah Ibu sebentar. Tanpa sempat bertukar kata”.

“Sejak itu, komunikasiku dengan Ibu hanya bisa lewat video call. RS, untungnya, membolehkan Ibu membawa telepon genggam ke dalam kamar isolasi. Akan tetapi, aku masih terombang-ambing dalam ketidakjelasan. Misalnya, RS memberitahuku bahwa mereka harus segera membawa Ibu ke RS rujukan yang telah ditunjuk Pemerintah untuk menangani pasien Covid-19. RS tempat Ibu dirawat bukanlah RS rujukan. Aku setuju saja kalau memang itu yang terbaik. Tapi ketika aku menanyakan hasil test Ibu, pihak RS bilang bahwa hasilnya belum ada. Apakah itu berarti Ibu harus tetap dipindahkan ke RS rujukan meski belum ada hasil test yang menyatakan Ibu positif terkena Covid-19? Bagaimana seandainya Ibu sudah dipindahkan ke RS rujukan kemudian hasil test menyatakan negatif?”

“Kegelisahanku bertambah-tambah karena komunikasi dengan para perawat yang bertugas di ruang isolasi pun tidak berjalan lancar. Contohnya,  setiap kali aku, dari rumah, menelepon perawat di ruang isolasi menanyakan keadaan Ibu, akan dijawab bahwa mereka mesti mengecek dulu ke kamar isolasi lalu mereka akan menghubungi aku kembali. Tetapi aku selalu menunggu lama untuk mendapat jawaban. Bisa lebih dari 2 jam! Atau ketika aku mengantarkan diapers yang diminta oleh RS, aku harus menelepon berulang-ulang untuk memastikan bahwa perawat di ruang siolasi tahu aku sudah membawakan diapers untuk Ibu. Keluarga pasien dilarang memasuki area ruang isolasi. Jadi aku hanya bisa menitipkan diapers, charger telepon untuk Ibu atau barang-barang lainnya di bagian informasi”.

“Setiap hari aku mendatangi RS. Menanyakan hasil test yang tak kunjung selesai, sembari berkoordinasi dengan pihak RS dalam menerapkan langkah selanjutnya. Meski RS berulangkali mengatakan bahwa mereka sedang mengerjakan urusan administrasi ke RS rujukan dan menindaklanjuti sesuai prosedur yang diarahkan oleh RS rujukan,  tapi nampaknya RS juga mengalami kegamangan. Mereka seperti tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Mereka malah balik bertanya padaku, siapa yang harus mereka hubungi di RS rujukan. Ya Tuhan!”.

“Dari hari ke hari,  aku berupaya mendapatkan hasil test Ibu. Menurut RS, apabila hasilnya negatif, aku bisa membawa Ibu pulang. Namun aku masih tetap belum mendapatkannya. Sambil menunggu, aku bergerak terus. Mencari informasi ke sana ke mari, mengontak siapapun yang bisa membantuku mencarikan kamar untuk Ibu di RS rujukan, seandainya Ibu mesti dipindah ke sana. Aku juga mulai mengurus berbagai surat penting sebagai syarat pemindahan Ibu, seperti rekam medis dan surat rekomendasi dari dokter. Sayangnya, di hari Minggu itu, dokter yang berwenang untuk menandatangani surat rekomendasi tidak berada di tempat. Libur. Tidak ada dokter lain yang bisa menggantikan menandatangani surat rekomendasi”.

“Senin pagi, dokter menyatakan Ibu siap dipindahkan. Kondisi Ibu, saat itu, mengalami pemburukan di paru-paru berdasarkan hasil rontgen thorax yang terbaru. Aku bersiaga menyertai pemindahan Ibu, di tengah kesimpangsiuran yang masih terus berlangsung. Awalnya RS mengatakan pemindahan Ibu tidak bisa menggunakan Ambulance dari RS tersebut. Harus menggunakan Ambulance dari Dinas Kesehatan. Ternyata, bisa. Kemudian mereka mempersilakanku menemani Ibu di dalam Ambulance. Ternyata, akhirnya, tidak diperkenankan. Jangankan sekadar mendekat, melihat dari jarak jauh saja aku dicegah. Mereka mengatakan Ibu akan keluar dari pintu A, ternyata mereka membawa Ibu keluar melalui pintu B. Semua hal itu membuatku berlari-larian dari ujung yang satu ke ujung lainnya berulang-ulang”.

“Entah bagaimana, aku bisa menemukan pintu tempat keluar Ibu menuju Ambulance, meskipun RS mengelabuiku. Tentu saja aku tidak dapat memandang wajah Ibu. Selain beberapa perawat dan petugas medis, seorang petugas keamanan juga menghalauku. Aku hanya mampu melihat tempat tidur Ibu didorong masuk ke dalam Ambulance yang langsung melesat pergi dengan sirene yang meraung-raung kencang”.

“Aku bergegas ke bagian depan RS mencari taksi yang, menurut pihak RS, sudah disediakan untukku. Ternyata tidak ada. Membuatku tergopoh-gopoh ke pinggir jalan untuk mencegat taksi. Akibatnya aku terlambat tiba di RS rujukan. Ketika aku sampai, Ibu sudah masuk ke dalam RS”.

“Meskipun sudah berada di dalam, Ibu masih berada di ruang transisi sebab kamar isolasi untuk Ibu sedang dibereskan. RS rujukan mempertanyakan mengapa pihak RS yang mengirim Ibu tidak memberi tahu mereka terlebih dulu sebelum memberangkatkan Ibu. Selain terlalu lelah, aku juga tidak tahu jawaban apa yang mesti kusampaikan”.

“Ibu belum berada di dalam kamar isolasi, tetapi aku jelas sudah tak bisa lagi menjumpainya. Aku mengurus semua administrasi. Di sini, aku sedikit berlega hati karena RS rujukan pemerintah terlihat lebih profesional dan berpengalaman. Semua informasi disampaikan transparan, detil dan jelas. Lembaran-lembaran formulir pun lengkap. Aku tinggal mengisinya saja. Selesai semuanya, aku kembali ke rumah. Melepas penat”.

“Malam harinya, pihak RS menelepon. Memberitahuku bahwa Ibu masuk ICU. Tentu saja aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ibu masih diperbolehkan membawa telepon genggam, karenanya aku bisa terhubung dengan Ibu. Lewat telepon, Ibu memohon padaku untuk bisa pulang. Aku berusaha membujuknya. Aku menghendakinya bersabar. Kukatakan bahwa keadaan di luar sudah kisruh dengan isu Covid-19. Ibu sudah mendapatkan tempat aman dan penanganan yang baik. Ibu diam saja mendengar perkataanku. Dari situ, Ibu tidak pernah lagi menuntut pulang”.

“Dibandingkan RS sebelumnya, komunikasi antara petugas medis di RS rujukan dengan keluarga pasien yang berada di ruang isolasi, sangat baik dan lancar. Semua permasalahan dijawab cepat. Jadwal kunjungan dokter pun diberitahukan dan keluarga diperkenankan bertemu serta berbicara langsung dengan dokter, bila diperlukan. Sayangnya, khusus untuk ruang ICU Covid-19, perawat yang bertugas hanya boleh masuk ke dalam saban 3 atau 4 jam sekali. Pasien benar-benar ditinggal sendirian. Aku sungguh paham bila Ibu merasa kesepian dan tidak nyaman”.

“Di RS rujukan tersebut, Ibu menjalani test setiap 2 hari. Test kesatu dijalani Ibu hari Senin tanggal 23, setibanya Ibu di sana. Hasil test Ibu negatif. Dokter paru-paru pertama yang kutemui menyatakan bahwa kondisi Ibu bagus dan stabil.  Apabila hasil test selanjutnya juga negatif, maka Ibu bisa dinyatakan sembuh. Dokter paru-paru kedua yang berbicara denganku juga sependapat dengan koleganya. Menurutnya, Ibu menderita pneumonia pada usia lanjut. Ketika aku mengajukan pertanyaan apakah itu bukan virus Covid-19, dengan tegas dokter menjawab: bukan!”.

“Walaupun Ibu sudah dirawat di RS rujukan Pemerintah, daya upayaku mendapatkan hasil test Ibu dari RS sebelumnya tak putus. Pihak RS sebelumnya menyampaikan bahwa spesimen air liur Ibu sudah dikirim ke laboratorium di Lembaga Eijkman. Aku menelepon berkali-kali melalui layanan call centre di institusi itu, namun tidak pernah ada yang mengangkat”.


Halaman Selanjutnya

“Beberapa teman dan kerabat memberi saran...

“Beberapa teman dan kerabat memberi saran agar aku tidak berlarut-larut tenggelam dalam pencarian kepastian mengenai apakah Ibu positif atau negatif Covid-19. Kesembuhan Ibu  adalah hal paling utama. Tapi argumenku adalah status Ibu penting diketahui agar Ibu mendapat penanganan yang benar-benar tepat. Apakah Ibu sedang mendapat penanganan sebagai pasien positif atau negatif Covid-19? Jangan-jangan Ibu dirawat sebagai pasien positif Covid-19 padahal sebenarnya bukan. Atau sebaliknya. Ibu dirawat sebagai pasien negatif Covid-19 padahal sebenarnya status Ibu positif. Bukankah itu mempengaruhi obat-obatan yang diberikan pada Ibu?”.

“Jumat dini hari, tanggal 27 Maret, aku menerima telepon dari RS. Mereka meminta ijin memasang ventilator (alat bantu pernapasan) untuk Ibu. Saat itu hasil test Ibu tanggal 25 belum keluar”.

“Minggu, tanggal 29 Maret, RS tempat Ibu dirawat mengabariku bahwa hasil test Ibu sudah ada. Positif. Ibu positif Covid-19. Aku diminta datang ke RS untuk mengambil hasilnya. Tapi aku menolak. Saat itu, aku sedang merasa tidak enak badan. Aku terserang demam”.

“Selasa sore tanggal 31, kondisi Ibu memburuk. Terus memburuk”.

“Kamis pagi-pagi, tanggal 2 April, pihak RS menghubungiku. Mempersilakan aku atau siapapun anggota keluarga untuk datang ke RS karena kondisi Ibu yang sangat menurun. Ibu sudah dalam keadaan kritis. Aku menjawab bahwa aku akan datang jika diperbolehkan bertemu dan melihat Ibu. Jika tidak, adik laki-lakiku yang akan pergi ke RS, sebab aku masih demam”.

“Aku menghubungi adik laki-lakiku. Memintanya datang ke RS. Segera. Aku juga mengingatkannya untuk membawa baju alat pelindung diri lengkap. Sesampainya di sana, adikku memberitahuku bahwa ia tidak dibolehkan masuk ke dalam RS. Hanya bisa berdiri di luarnya saja”.

“Menjelang tengah hari, pihak RS meneleponku kembali. Aku diminta berbicara pada Ibu. Aku sudah bisa menduga apa yang terjadi. Kesempatan itu kugunakan sebaik-baiknya. Aku menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya pada Ibu. Aku juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Ibu yang telah melahirkanku.  Aku tidak mendengar apapun dari seberang telepon hingga sesaat kemudian, terdengar suara dokter menyatakan bahwa Ibu telah meninggal dunia. Aku menutup telepon. Tangisku pecah”.

“Sesuai aturan yang diberlakukan, pemakaman Ibu harus dilaksanakan sesegera mungkin, dengan protokol ketat di area pemakaman yang sudah disiapkan Pemerintah. Hanya beberapa orang anggota keluarga yang dipersilakan menghadiri pemakaman. Itupun harus dari jarak jauh. Boleh mendekat, setelah Ibu dimakamkan. Aku masih demam. Aku tidak bisa datang. Aku berencana mengunjungi makam Ibu tepat di hari ulang tahunnya, tanggal 29 Mei”.

“Meski aku demam disertai gejala-gejala lain seperti rasa pahit di lidah dan mual, tetapi hasil testku negatif Covid-19”.

“Terkadang berjuta mengapa dan andaikan masih berkecamuk dalam kepalaku, terutama masalah prosedur penanganan, koordinasi antar RS serta kejelasan informasi. Aku ikhlas dengan kepergian Ibu, namun aku jelas berharap Indonesia bisa memperbaiki lagi segala tatanan pada layanan kesehatan masyarakat”.

“Pada akhirnya, tidak adanya kesempatan bagiku melihat Ibu untuk terakhir kalinya, malah memberiku rasa syukur bahwa yang tertinggal adalah kenangan-kenangan yang manis dan penuh keindahan. Betul-betul  sesuai dengan yang diinginkan Ibu. Diingat sebagai pribadi yang hangat, menyenangkan, menyayangi serta disayangi banyak orang dan tidak pernah mau merepotkan siapapun, bahkan anak-anaknya sendiri”.

Photo by Jonathan Cooper on Unsplash

Read more