10 Days of Butterflies, Coffee and Pie (Kado Natal Buat Asakura)
Dari tiga ratus enam puluh lima hari yang tersedia, Indonesia mendedikasikan satu hari, tanggal 28 April untuk merayakan puisi sebagai wujud penghargaan terhadap seni tutur yang telah ikut mengiringi perjalanan panjang bangsa. Hari Puisi Nasional ini sekaligus juga merupakan bentuk kehormatan pada para penyair yang menyuarakan kedalaman jiwa jamannya, menjadikan
Maka diiringi dedaunan yang bukan lagi hijau melulu, yang sudah berubah merah kecoklatan atau menjelma kuning bercampur terakota, yang merapuh, yang melayang-layang lepas dari ranting-ranting yang sedang bersiap meranggas lalu bertaburan di tanah basah, album pertama The Macarons Project bertajuk reverie dirilis pada konser bernuansa akrab (intimate show) bertempat di
Jakarta, 1927. Suhu politik memanas lagi. Anak-anak muda menggeliat. Kembali bergiat. Penggagas Kongres Pemuda I: Moh. Jamin, Tabrani, Soegondo Djojopuspito merencanakan Kongres Pemuda Indonesia II. Soepratman, yang kala itu bekerja sebagai wartawan harian terkemuka Sin Po, sering menemui mereka di markas Indonesische Clubgebouw, di Jalan Kramat Raya 106. Soepratman memutuskan
“Waktu kecil sering diikutsertakan di kegiatan-kegiatan tari di Gereja atau di Sekolah. Awalnya, kebanyakan, modern dance. Setelah dewasa, malah baru belajar tari tradisional dengan guru.” Begitu Feby Bramandewi berkisah awal muasal meleburkan dirinya pada tari-menari. Demikian pula Firda Wijaya, pendiri Srikandi Indonesia Dancers di Vancouver, punya pengalaman serupa milik Feby.